Media Sharing, Informasi masalah Hukum, Keislaman, Tips dan Bisnis

Cara menghitung arah kiblat dengan rumus Trigonometri

Arah kiblat adalah arah yang menuju ke bangunan ka'bah yang berada di makkah, yang dijadikan kiblat oleh umat Muslim di dunia.

Indonesia adalah negara yang letaknya jauh dari kota makkah yang memaksa harus adanya perhitungan dan pengukuran dalam menentukan arah Kiblat ini.

Ilmu Falak


Ada beberapa metode yang bisa dilakukan untuk menghitung dan mengukur arah kiblat. di dalam artikel ini akan saya jelaskan cara perhitungan arah kiblat dengan menggunakan rumus Trigonometri.

Baik langsung saja ke pembahasannya.

Menghitung arah kiblat dengan menggunakan rumus Trigonometri

Untuk menghitung arah kiblat menggunakan rumus trigonometri ini tentunya perlu data-data yang mendukung pada saat perhitungannya, adapun data-data yang dibutuhkan pada saat akan melakukan perhitungan adalah :

(ϕt) = .............

(λt) = .............

(ϕk) = 21°25’21,04”

(λk) = 39°49’34,33”

SBMD = ............

Ket :

(ϕt) = Lintang Tempat

(λt) = Bujur Tempat

(ϕk) = Lintang Ka’bah

(λk) = Bujur Ka’bah

SBMD = Selisih Bujur Makkah Daerah

Baca juga : Seputar Arah Kiblat

Perlu diketahui bahwa sebelum melakukan perhitungannya harus ada data di atas terlebih dahulu. Adapun data ϕk dan λk itu sudah baku/tetap angkanya jadi tidak perlu diubah lagi, angka ini merupakan hasil riset Kyai Slamet Hambali pada saat beliau melaksanakan ibadah haji ke tanah suci, lalu beliau menaruh aplikasi google earth di atas ka'bah (persis di tengah-tengah di atas ka'bah) dan muncul lah angka tersebut.

Lalu untuk data ϕt dan λt itu bisa diketahui dari aplikasi GPS Test dan harus diingat bahwa untuk angka ϕt  harus negatif (-) meskipun nanti di GPS Test menunjukan angka positif, kenapa ϕt harus negatif ? ini harus negatif karena pada dasarnya letak Indonesia ini berada di bawah garis khatulistiwa atau melewati garis katulistiwa.

Rumus :

Cotan B = Tan ϕk x Cos ϕt : Sin SBMD - Sin ϕt : Tan SBMD

Adapun langkah-langkah perhitungannya adalah :

1. Download Aplikasi GPS Test

Anda bisa mendownload aplikas GPS Test di Play Store di Hp Android anda.

2. Mencari Angka ϕt dan λt

Untuk mencari angka ini tidak terlalu rumit, anda cukup membuka aplikasi GPS Test, akan tetapi anda sebelumnya aktipkan terlebih dahulu mode GPS yang ada di Hp anda jangan lupa data selullar juga diaktipkan, tunggu sampai tampilan di GPS Test menjadi 3D Fix, lalu anda bisa lihat di bagian penampilan lintang dan bujur. disana akan muncul dua baris angka, artinya angka yang di atas menunjukan lintang dan di bawahnya angka bujur. 

3. Mencari SBMD

Untuk mencari SBMD caranya bagaimana ? caranya adalah λt - λk gampangnya untuk mencari selisih adalah dengan mengurangi angka terbesar dengan angka terkecil, Maka tinggal kurangi saja λt - λk .

4. Masukan Rumus

Cotan B = Tan ϕk x Cos ϕt : Sin SBMD - Sin ϕt : Tan SBMD

Data sudah lengkap, selanjutnya tinggal masukan saja angka data-datanya, angka yang muncul hasil dari pada perhitungan rumus di atas itu adalah arah kiblatnya.

Agar lebih faham akan saya coba dengan data di bawah ini :

Contoh

Data ini saya ambil dari aplikasi GPS Test, lokasi di Pondok Pesantren Al-Ihya, Kecamatan Kesambi, Kota Cirebon dengan rincian data sebagai berikut :

Ilmu Falak

Gambar : Data diambil dari aplikasi GPS Test


Di atas adalah tampilan Aplikasi GPS Test bagian penampilan lintang dan bujur. Maka jika diuraikan sebagai berikut :

(ϕt) = -6044'28,893"

(λt) = 108032'05,298"

(ϕk) = 21°25’21,04”

(λk) = 39°49’34,33”

SBMD :
λt - λk 
= 108032'05,298" - 39°49’34,33”
= 68042'30,97" (Ini angka SBMD)


Cotan B
= Tan ϕk x Cos ϕt : Sin SBMD - Sin ϕt : Tan SBMD
= Tan 21°25’21,04” x Cos -6044'28,893" : Sin 68042'30,97" - Sin -6044'28,893" : Tan 68042'30,97"
65°6’43,86” (Ini adalah arah kiblatnya ditarik dari utara ke barat)

Baca juga : Perbedaan Kiblat dab Ka'bah

Dan untuk selanjutnya hasil perhitungan ini bisa dilakukan pengukuran arah kiblatnya entah itu dengan menggunakan alat seperti busur derajat, segitiga kiblat dan lain sebagainya.

Catatan : Apabila anda kesulitan dalam melakukan perhitungan, bisa dibantu dengan menggunakan kalkulator saintific, bisa anda download di Hp anda.

Cara menggunakan kalkulatornya :

Tekan Shift Tan ( masukan data )X-1 =

5. Azimuth kiblat
Untuk Azimuth kiblat ini gampang saja, tinggal 360 derajat dikurangi Cotan B
jadi, Azimuth = 360 - 65°6’43,86”
                       = 294° 53' 16.1" (maka ini adalah nilai Azimuthnya)

Gimana sangat mudah bukan ? selamat mencoba, semoga bermanfaat.

Terimakasih...
Share:

Hak Muslim terhadap sesamanya

 Tak sedikit umat muslim yang tidak menyadari hak, kewajiban dan adab kepada sesama muslim. Padahal agama islam juga mengatur hubungan kepada sesama manusia termasuk kewajiban , adab dan hak sesama muslim




-Kewajiban seorang muslim

Mengutip hadits nabi Muhammad s.a.w didalam kitab shohih bukhori dan muslim yang menyebutkan kewajiban sesama muslim ada 5:

1)menjawab salam

2)menjenguk orang sakit

3)mengantar jenazah

4.) mendoakan yang bersin

5) memenuhi undangan

Dalam redaksi lain dijelaskan bahwa kewajiban seorang muslim terhadap muslim lainnya ada 7; 

1.)mengantar jenazah

2.) menyambangi orang sakit/membesuk orang sakit

3.) memenuhi undangan

4.)menolong orang teraniaya

5.) menepati sumpah/janji

6.) membalas salam

7.) mendoakan orang yang bersin(H.R bukhori no 227)

- adab sesama muslim  

Terdapat banyak adab sesama muslim yang perlu diperhatikan ,salah satunya ketika menguap,berikut ini adab untuk menguap;

menahan semampunya saat menguap(H.R MUSLIM)

menutup mulut dengan tangan (H.R abu dawud)

melembutkan suara saat sedang menguap(H.R tirmidzi)

-Hak muslim terhadap muslim yang lainnya

 Mengutip salah satu hadits dari abu khurairah hadits yang diriwayatkan oleh imam muslim nomor 2162 bab adab adab kitab bulughul marom dan kitab mukhtarol hadits menyebutkan bahwa hak seorang muslim kepada muslim yang lain ada 6;

1)jika engkau bertemu maka ucapkanlah salam kepadanya

2)jika ia mengundangmu maka penuhilah undanganya

3)apabila ia meminta nasihat darimu maka berilah nasihat oleh mu

4)apa bila dia bersin lalu memuji alloh (mengucapkan Alhamdulillah)maka doakanlah dengan yarhammukalloh <dalam redaksi ada penambahan yaitu yahdikumulloh dan wayusrih balakum> )

5.)kalau dia sakit hendaklah membesuknya

6)dia meninggal dunia maka ikutilah jenaazahnya (H.R muslim no 2162 bab adab kitab bulughul marom dan mukhtarol hadits)


Linardo Indra


Share:

Tips sebelum membuat Design

 Haloo Sobat.. Selamat Pagi, Selamat Siang, Selamat Sore bahkan Selamat Malam untuk kalian semua, semoga kalian selalu dalam keadaan sehat, Amiien..

Baik Sobat, dalam postingan ini saya akan mencoba memberikan beberapa Tips atau Cara untuk Sobat semua sebelum membuat suatu Design / Mendesign, karena pada dasarnya sebelum membuat suatu Design, baik itu membuat brosur, pamflet dan lain sebagainya, ada beberapa hal yang mesti sobat semua perhatikan guna ketika pada saat Mendesign sobat semua tidak terhambat oleh sesuatu yang sobat tidak tau, dan ini merupakan hal terpenting yang harus dimiliki oleh seorang Designer Grafis.

Ilmu Falak

Langsung saja, Tips atau langkah awal sebelum membuat design yang harus dilakukan oleh seorang designer adalah:

Pertama,

Berdo'a, Alangkah baiknya sebelum mendesign seorang designer Berdoa terlebih dahulu, tips yang pertama ini memang terlihat sepele, namun jika sobat teliti bahwa ada satu ungkapan suatu usaha tanpa disertai Do'a sama dengan sombong, pun ketika Do'a tanpa adanya usaha sama dengan bohong. Jadi kiranya penting bagi sobat semua sebelum Mendesign agar terlebih dahulu membaca Do'a guna usaha/kegiatan sobat semua selalu diridhai Tuhan. Untuk metode berdoa itu sendiri saya kembalikan kepada kepercayaan masing-masing.

Kedua,

Memilih jenis perangkat lunak, perkembangan teknologi informasi dalam bidang pengembangan perangkat lunak aplikasi (perangkat lunak) Design, Internet dan Teknologi digital lainnya pada masa sekarang memaksa munculkan media atau aplikasi baru. Oleh karena itu banyak pilihan bagi sobat semua dalam menentukan aplikasi yang nantinya akan sobat gunakan pada saat membuat Design. Akan tetapi secara umum aplikasi (perangkat lunak) Design Grafis dibedakan ke dalam dua bagian: 1. berbasis vector dan yang ke 2. berbasis bitmap.

Pengertian Design Grafis Vector adalah Design Grafis yang berbasis besaran dan arah atau magnitude dan direction. Sedangkan Design Grafis yang berbasis Bitmap adalah Design Grafis yang memiliki berjuta-juta titik atau pixel. Salah satu contoh perbedaannya adalah jika Gambar berbasis Vector diperbesar maka gambar tersebut akan tetap jelas, sedangkan yang berbasis bitmap ketika diperbesar maka akan nampak kabur atau kualitas gambar pecah.

Berikut adalah nama-nama perangkat lunak untuk Design Grafis :
Vector : CorelDraw, FreeHand dan Adobe Illustrator.
Bitmap : Paint, Photoshop, Corel Photopaint dan Gimp.
Dari nama-nama di atas silahkan sobat pilih salah satu yang cocok untuk sobat gunakan pada saat Mendesign.

Ketiga,

Menetapkan Perangkat Lunak, artinya adalah sobat harus mengetahui fitur atau peranti yang ada di dalam perangkat lunak tersebut, agar fasilitas dalam perangkat lunak itu digunakan secara optimal sesuai fungsinya. Bila sobat memilih untuk menggunakan CorelDraw maka sobat harus mengetahui terlebih dahulu peranti atau fitur yang ada di dalam CorelDraw, pun sebaliknya ketika sobat memilih untuk menggunakan PhotoShop. Demikian cara ini bisa meminimalisir hambatan yang terjadi pada saat sobat Mendesign.

Itulah sobat kiranya Tips yang saya berikan, jelasnya dari tips di atas kita bisa mengetahui hal terpenting yang harus dilakukan dan langkah awal yang harus dilakukan oleh soerang designer sebelum membuat sebuah design. semoga bermanfaat.

Terimakasih...
Share:

Sejarah shalat menghadap kiblat

Kenapa shalat harus menghadap ke ka'bah?

Sering kali kita dihadapkan dengan sebuah pertanyaan seperti di atas, wajar saja bila ada orang yang bertanya seperti itu, karena demikian merupakan bukti bahwasannya manusia adalah makhluk yang berfikir dan ini juga merupakan bukti bahwa Allah memberikan akal dan fikiran kepada manusia untuk digunakan.

Menyikapi pertanyaan di atas barang tentu tidak terlepas dari awal dulu bagaimana prosesi Rosul mencontohkan shalatnya harus menghadap ka'bah. Maka di sini saya akan membahas sedikit banyaknya sejarah awal mula shalat menghadap ka'bah yang saya ambil dari beberapa sumber, agar kiranya dapat memberikan alasan dan jawaban atas pertanyaan di atas.

Baiklah kira-kira sejarahnya seperti ini:

1. Sejarah ka’bah

Di zaman sekarang ka’bah merupakan tempat peribadatan paling terkenal dalam islam, biasa disebut dengan baitullah, juga merupakan bagian penting bagi seorang muslim dalam melakukan ibadah. (Miftahudin, 2018). Dalam The Encyclopedia Of Religion dijelaskan bahwa banguna ka’bah ini merupakan bangunan yang dibuat dari batu-batu (granit) Makkah yang kemudian dibangun menjadi bangunan berbentuk kubus (cube-like building) dengan tinggi kurang lebih 16 meter dan lebar 11 meter. (Izzudin, 2017)

Batu-batu yang dijadikan bangunan ka’bah saat itu diambil dari lima sacred mountains, yakni: Sinai, al-judi, hira, olivet dan Lebanon. Nabi Adam AS dianggap sebagai peletak dasar bangunan ka’bah di bumi karena menurut yaqut al-hamawi (575 H/1179 M. Ahli sejarah dari irak) menyatakan bahwa bangunan ka’bah berada di lokasi kemah Nabi Adam AS setelah diturunkan Allah dari surga ke bumi. Setelah Nabi Adam AS wafat, bangunan itu diangkat ke langit. Lokasi itu dari masa ke masa diagungkan dan disucikan oleh umat para nabi.

Pada masa nabi Ibrahim AS dan putranya Nabi Ismail AS, lokasi itu digunakan untuk membangun sebuah rumah ibadah. Bangunan ini merupakan rumah pertama yang dibangun, berdasarkan QS. Ali-Imran: 96.

انَّ اَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِنّاَسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَرَكاً وَهُدًى لِلْعَالَمِيْنَ

“sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk tempat beribadah manusia ialah baitullah yang di bakkah (Makkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia” (QS. Ali Imran:96) 

Sebagaimana yang terdapat dalam surat Al-Baqarah:125.

وَاِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِنَّاسِ وَاَمْنًا وَاتَّخِذُوا مِنْ مَقَامِ اِبْرَاهِيْمَ مُصَلىً وَعَهِدْنَا اِلىَ اِبْرَاهِيْمَ وَاِسْمَاعِيْلَ اَنْ طَهَّرَا بَيْتِيَ لِطَّائِفِيْنَ وَالْعَاكِفِيْنَ وَالرُّكَّعِ السُّجُوْدِ

“Dan (ingatlah) ketika kami menjadikan rumah itu (baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebagian “maqom ibrahim” tempat shalat. Dan telah kami perintahkan kepada ibrahim dan ismail: “bersihkanlah rumahku untuk orang-orang yang thawaf, yang i’tikaf, yang ruku’ dan sujud” (QS. Al-Baqarah:125)

Dalam pembangunan itu, Nabi Ismail AS. Menerima Hajar Aswad (batu hitam) dari malaikat jibril di Jabal Qubais, lalu meletakannya di sudut tenggara bangunan. Bangunan itu berbentuk kubus yang dalam bahasa arab disebut dengan Muka’ab. Dari kata inilah muncul sebutan ka’bah. Ketika itu ka’bah belum berdaun pintu dan belum ditutupi kain. Orang pertama yang membuat daun pintu ka’bah dan menutupinya dengan kain adalah Raja Tuba’ dari Dinasti Himyar (pra islam) di Najran (daerah Yaman).

Setelah nabi Ismail wafat, pemeliharaan ka’bah dipegang oleh keturunannya, lalu Bani Jurhum, lalu Bani Khuza’ah yang memperkenalkan penyembahan berhala. Selanjutnya pemeliharaan ka’bah dipegang oleh kabilah-kabilah Quraisy yang merupakan generasi penerus garis keturunan Nabi Ismail AS.

Menjelang kedatangan islam, ka’bah dipelihara oleh Abdul Muthalib, kakek Nabi Muhammad SAW. Ia menghiasi pintunya dengan emas yang ditemukan ketika menggali sumur zam-zam. ka’bah di masa ini, sebagaimana halnya di masa sebelumnya, menarik perhatian banyak orang. Abrahah gubernur Najran, yang saat itu merupakan bagian daerah kerajaan Habasyah (sekarang Ethopia) memerintahkan penduduk Najran, yaitu Bani Abdul Madan Bin Ad-Dayyan yang beragama nasrani untuk membangun tempat peribadatan seperti bentuk ka’bah di makkah untuk menyainginya. Bangunan itu disebut Bi’ah dan dikenal sebagai ka’bah Najran. ka’bah ini diagungkan oleh penduduk Najran dan dipelihara oleh para uskup.

Al-Quran memberikan informasi bahwa Abrahah pernah bermaksud menghancurkan ka’bah di makkah dengan pasukan gajah. Namun pasukannya itu lebih dulu dihancurkan oleh tentara burung yang melempari mereka dengan batu dari tanah berapi sehingga mereka menjadi seperti daun yang dimakan ulat.

Dalam firman Allah SWT. QS. Al-Fiil:1-5.

اَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَابِ الْفِيْلِ، اَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَهُمْ فِيْ تَضْلِيْلٍ، وَاَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا أَبَابِيْلَ، تَرْمِيْهِمْ بِحِجَارَةٍ مِّنْ سِجِّلٍ، فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَّأْكُوْلٍ

“apakah kamu tidak memperhatikan bagaiman tuhanmu telah bertindak terhadap tentara gajah? Bukankah dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan ka’bah) itu sia-sia? Dan dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong. Yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar. Lalu dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat).” (QS. Al-Fiil:1-5)

ka’bah sebagai bangunan pusaka purbakala semakin rapuh dimakan waktu, sehingga banyak bagian-bagian temboknya yang retak dan bengkok. Selain itu makkah juga pernah dilanda banjir hingga menggenangi ka’bah dan meretakan dinding-dinding ka’bah yang memang sudah rusak.

Pada saat itu orang-orang Quraisy berpendapat perlu diadakan renovasi bangunan ka’bah untuk memelihara kedudukannya sebagai tempat suci. Dalam renovasi ini turut serta pemimpin-pemimpin kabilah dan para pemuka masyarakat Quraisy. Sudut-sudut ka’bah itu oleh Quraisy dibagi empat bagian, tiap kabilah mendapat satu sudut yang harus dirombak dan dibangun kembali.

Ketika sampai ke tahap peletakan Hajar Aswad mereka berselisih tentang siapa yang akan meletakannya. Kemudian pilihan mereka jatuh kepada seseorang yang dikenal sebagai al-amiin (yang jujur atau terpercaya) yaitu Muhammad Bin Abdullah (yang kemudian menjadi Rasulullah SAW). Setelah penaklukan kota makkah (Fathul Makkah), pemeliharaan ka’bah dipegang oleh kaum muslimin. Dan berhala-berhala sebagai lambang kemusyrikan yang terdapat disekitanyapun dihancurkan oleh kaum muslimin. (Izzudin, 2017).

Ka’bah, di masa pra islam adalah bangunan sebagai tempat penyembahan di mana bertaburan berhala-berhala. Risalah islam yang dibawa baginda Nabi Muhammad SAW. Menebas habis berhala-berhala tersebut, hingga bangunan ini dijadikan sebagai tempat ibadah dan dijadikan kiblat shalat. (Rakhmadi, 2017).

Baca Juga: Perbedaan Kiblat dan Ka'bah

2. Sejarah Perpindahan Arah Kiblat

Di zaman dulu sebelum Rasulullah SAW. Hijrah dari Makkah ke Madinah, belum ada ketentuan dari Allah SWT. tentang kewajiban menghadap ke arah kiblat bagi orang yang melakukan shalat. Rasulullah sendiri dalam melakukan shalat selalu menghadap ke baitul maqdis atau masjidil Aqsha sebagaimana dilakukan oleh nabi-nabi sebelumnya.

Hal ini dilakukan karena kedudukan baitul maqdis saat itu masih di anggap sebagai tempat paling suci, sedangkan ka’bah masih dikotori berhala-berhala yang ada di sekelilingnya.

Namun demikian dalam sebuah riwayat dijelaskan, meskipun Rasulullah SAW. dalam menjalankan shalat selalu menghadap ke baitul maqdis, beliau selalu menghadap ke baitullah atau masjidil haram ketika berada di Makkah sekaligus menghadap ke baitul maqdis dan dalam hatinya selalu memiliki kecenderungan untuk menghadap ke ka’bah.

Dengan demikian, ketika Rasulullah SAW. berada di Makkah, saat melaksanakan shalat selalu mengambil tempat di sebelah selatan ka’bah, sehingga dapat menghadap ke ka’bah sekaligus menghadap ke masjidil Aqsha. Akan tetapi permasalahan muncul ketika Rasulullah berada di Madinah karena tidak dapat menghimpun kedua kiblat tersebut.

Setelah sekitar 16 atau 17 bulan Rasulullah SAW. selalu shalat menghadap baitul maqdis kemudian turunlah wahyu Allah SWT. yang memerintahkan Rasulullah dan umatnya untuk shalat menghadap ka’bah. Hal inilah yang menyebabkan banyak orang Islam yang kadar keimanannya lemah memilih kembali kepada kekafirannya dan orang-orang Yahudi sangat benci kepada Rasulullah, karena mereka menganggap bahwa tidak ada tempat paling suci selain baitul maqdis yang merupakan sumber agama yang di bawa oleh para nabi keturunan Israil (Mujab, 2015).

Baca Juga: Cara menghitung dan menentukan arah kiblat dengan rumus Trigonometri

Namun demikian, sebenarnya baitul maqdis dan baitullah di sisi Allah adalah sama mulianya. Pemindahan arah kiblat tersebut hanyalah sebagai ujian ketaatan bagi umat manusia kepada Allah SWT. dan Rasulnya.

Hal yang paling penting dilakukan dalam ibadah shalat adalah ketulusan hati dalam menjalankan perintahnya, dengan kerendahan hati memohon petunjuk jalan yang lurus kepadanya. Karena pemaknaan arah kiblat bukanlah baitul maqdis atau ka’bah (karena keduanya di sisi Allah sama), akan tetapi urgensi dari pemaknaan kiblat adalah ketulusan dan kerendahan hati dalam menghadap dan menyembah Allah SWT.

Sebagaimana dijelaskan di atas, setelah kurang lebih 16 atau 17 bulan Rasulullah SAW. berada di Madinah dan selalu shalat menghadap ke baitul maqdis, akhirnya turunlah wahyu Allah SWT. yang memerintahkan Rasulullah SAW. dan umatnya untuk memindahkan kiblat mereka dari baitul maqdis ke baitullah atau masjidil haram sebagai respon atas do’a dan keinginan Rasulullah SAW. untuk menghadap ke ka’bah.

Pada waktu itu tepatnya pada bulan Rajab tahun 2 H, Rasulullah SAW. sedang melaksanakan shalat dzuhur berjamaah bersama para sahabat, lalu turunlah wahyu QS. Al Baqarah ayat 144 untuk memindahkan kiblat dari baitul maqdis ke baitullah, lalu Rasulullah SAW. Berputar 180 derajat ke arah ka’bah (mengambil arah kanan) dan diikuti oleh para sahabat. Saat itu Rasulullah melaksanakan shalat di masjid Bani Salamah. Maka pasca kejadian itu masjid ini terkenal dengan sebutan masjid Qiblatain karena mempunyai dua arah kiblat, pertama kiblat ke baitul maqdis (sekarang sudah ditutup) kedua arah kiblat ke ka’bah (yang sekarang). Lalu pasca peristiwa itu juga tidak semua para sahabat ikut berjamaah dengan Rasulullah, yang mengakibatkan sebagian dari mereka ada yang belum tahu bahwa arah kiblat sudah berpindah, namun pada akhirnya mereka juga diberi tahu oleh para sahabat lainnya, sehingga sampai dengan sekarang bahwa menghadap kiblat itu menghadap ke baitullah (ka’bah) yang berada di kota Makkah.

Baca Juga: 6 Langkah mudah menentukan arah kiblat dengan kompas dan busur derajat

Nahh.. bagaimana sahabat sudah tahukah alasan kenapa kita shalat harus menghadap ke ka'bah?
Itulah kiranya yang bisa saya bahas pada artikel ini, semoga bermanfaat..
Terima kasih..
Share:

Definition List

Unordered List

MagPress-banner-728×90

Support